Smong

Mohammad Ferandy

Sore itu, Umar kecil duduk di samping neneknya, di pelataran rumah. Aroma laut dan hangatnya daerah pesisir sangat terasa di kampung mereka yang terletak di Pulau Simeulue, Aceh.

Neneknya mengaduk adonan tumbukan pisang, bubur sagu, dan parutan kelapa untuk dibuat menjadi tabaha, kudapan khas pulau itu. Sambil mengaduk, neneknya menyenandungkan syair,
“Enggel mon sao curito.”

Umar mengerti makna kata-kata dalam bahasa Devayan, bahasa asli daerahnya, itu: “Dengarlah sebuah cerita.”

Umar mengambil kudapan manis itu yang sudah selesai dipanggang, sambil mendengarkan bait demi bait syair yang neneknya lantunkan, hingga akhirnya mencapai hampir penghujung syair tersebut.

“Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini betul-betul)
Pesan dan navi da (pesan dan nasihatnya)”

Neneknya pun menghela napas panjang. Tampak air mata sedikit menggenang di pelipis matanya. Kenangan pahit sewaktu ia masih kecil masih sangat membekas di benaknya. Smong, gelombang tsunami, menghantam Pulau Simeulue sewaktu ia masih balita. Sekitar 400 orang meninggal saat bencana yang terjadi pada awal abad ke-20 tersebut. Salah satu di antaranya adalah kakaknya yang sering mengajaknya bermain bersama.

Smong, Nek?” tanya Umar sambil mengambil tabaha yang tersaji di atas daun pisang.

“Iya, smong. Ingat baik-baik syair ini, Nak. Kalau smong datang, kamu harus lindungi keluarga,” kata nenek sambil mengusap air matanya.

Umar pun terdiam. Ia menaruh kembali tabaha yang ada di tangannya. Ia mengangguk pelan-pelan. Neneknya pun menyenandungkan bait terakhirnya.

Smong dumek-dumekmo (tsunami adalah air mandimu)
Linon uwak-uwakmo (gempa adalah ayunanmu)
Elaik keundang-keundangmo (petir adalah kendang-kendangmu)
Kilek suluh-suluhmo (halilintar adalah lampu-lampumu)”

Dua puluh lima tahun berselang, Umar baru pulang dari pasar, menjual hasil melautnya semalam. Istrinya menyambutnya dengan segelas kopi tubruk dan tabaha kesukaannya.

“Lafé o*, di mana Aisyah?” tanyanya pada istrinya, Fathimah.

“Sejam yang lalu pergi main ke pantai, laé**,” jawab Fathimah menceritakan putri tunggal mereka yang baru saja menginjak usia 6 tahun. Rumah mereka memang dekat dengan pantai, jalan kaki 20 menit saja sudah sampai.

“Oh, iya, main sama Rukiyah?”tanya Umar.

“Iya, seperti biasa,” ujar Fathimah.

Umar pun menyeruput kopi tubruknya. Pada saat itulah rumahnya terasa bergoyang.

“Gempa, laé?”kata istrinya.

Seketika itu ia langsung teringat akan syair yang neneknya nyanyikan.

“Enggel mon sao curito (dengarlah sebuah cerita)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu)
Manoknop sao fano (tenggelam satu desa)”

*) Istriku, Bahasa Devayan
**) suami, Bahasa Devayan


“Smong!” seru Umar, “Laé, Aisyah? Aisyah?”

“Aisyah main di sana!” istrinya menunjuk ke arah pantai.

Laé, cepat lari. Selamatkan dirimu ke bukit!”

“Bagaimana dengan Aisyah?” tanya istrinya.

Tampak jelas ketakutan di raut wajah Fathimah.

“Aku akan selamatkan Aisyah. Kamu larilah ke atas,” seru Umar.

“Tidak, aku ikut cari juga,” sambil terisak, Fathimah menarik punggung baju suaminya.

“Percayalah padaku laé,” kata Umar sambil menyentuh pundak istrinya, “Insya Allah, akan kutemukan Aisyah dan kami akan menyusulmu ke bukit,”

Fathimah pun mengangguk. Langsung ia berlari ke arah bukit.

“Smong! Smong! Smong!” terdengar teriakan orang-orang.

Umar berlari ke arah pantai, sambil berusaha memilih jalur yang paling lapang. “Aisyah, Aisyah,” teriaknya.

Di kepalanya terus terngiang-ngiang syair yang neneknya lantunkan, “Unen ne alek linon,(diawali oleh gempa).”

Sekitar 160 km di arah utara kampung Umar, terjadi tubrukan dua lempeng benua. Getarannya menyebabkan gempa. Umar terus berlari, sambil melihat sekeliling mencari tanda-tanda putrinya.

“Di mana Aisyah? Semoga ia selamat, gempa ini lama sekali,” pikirnya.

Gempa ini adalah gempa terbesar setelah Indonesia merdeka. Durasinya 8 menit, padahal biasanya gempa hanya terjadi selama beberapa detik. Benar-benar mengerikan.

Ada yang lebih Umar takutkan daripada gempa ini. Terbayang lanjutan nyanyian neneknya, “Fesang bakat ne mali(disusul ombak yang besar sekali).”

Salah satu lempeng kontinental bergeser naik sampai 15 meter. Itu mengakibatkan dasar laut di beberapa titik naik sampai 10 meter. Permukaan laut di lokasi gempa pun naik.

Air yang terdorong kemudian membentuk gelombang besar di dasar dan tengah laut. Karena itulah di daerah laut dalam, air yang bergerak cepat ini tidak terlalu terasa di permukaan. Gelombang ini bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, 800 km/jam. Gelombang secepat pesawat jet ini bergerak ke berbagai arah.

Akhirnya Umar melihat Aisyah. Putrinya ini terjatuh tak sadarkan diri. Di sampingnya tampak Rukiyah sedang menangis. Segera Umar berlari mendekat.

“Rukiyah, ada apa dengan Aisyah?” tanyanya.

“Huu… Huu… A… Aisyah,” isak Rukiyah.

Umar mengecek kondisi putrinya. Tampak memar dan luka kecil di tangan dan kakinya, namun napasnya masih stabil. Aisyah hanya pingsan.

“Alhamdulillah, tidak apa-apa,” ujarnya.

Gempa semakin mereda hingga akhirnya berhenti. Sejenak ia lega. Namun hewan-hewan di sekitarnya malah semakin panik. Ternak menjadi semakin berisik. Dari kejauhan tampak kumpulan titik-titik hitam. Burung-burung di laut terbang ke arah pantai.

Binatang memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada manusia terhadap perubahan alam, termasuk terhadap bencana. Umar pun semakin yakin bahwa gempa tadi bukanlah akhir bencana.

Smong memang akan datang.


Sementara itu, tampak banyak ikan menggelepar di pantai. Air laut surut ratusan meter. Beberapa orang yang semula berlindung, mulai tertarik untuk mengambil ikan.

Pasang surut air laut merupakan fenomena yang setiap hari terjadi di pantai. Pasangnya air ditentukan oleh surutnya air laut. Semakin banyak air laut yang surut menandakan semakin besar pula gelombang pasang yang datang. Sehingga, tsunami sebenarnya hanyalah fenomena pasang surut air laut, hanya saja jumlah airnya sangat besar dan masif.

Umar pun berteriak mengingatkan,“Jangan ke sana! Smong! Smong! Lari ke bukit.”

Mereka pun teringat syair itu, segera berbalik menuju Umar. “Hei, bantu aku!” teriak Umar saat mereka sudah berada di dekatnya.

“Apa yang bisa kubantu?” tanya salah seorang lelaki.

“Tolong bantu gendong anak ini,” jawab Umar sambil menepuk pundak Rukiyah.

Umar pun segera menggendong Aisyah di punggungnya, sementara laki-laki tersebut menggendong Rukiyah. Mereka pun berlari ke arah bukit.

Sejenak ia menengok ke arah laut. “Smong masih belum terlihat. Semoga masih cukup waktu,” pikirnya.

Suara neneknya masih terus terngiang, “Maheya mihawali (segeralah cari). Fano me singa tenggi (tempat kalian yang lebih tinggi).”

Umar berusaha mempercepat langkahnya. “Ayo, lari lebih kencang! Smong! Smong!” teriaknya menyemangati orang-orang yang berlari bersamanya.

Mereka terus berlari. Jalan yang menanjak membuat langkah mereka semakin berat. Tapi mereka berlomba dengan ombak. Semakin dekat dengan pantai, kedalaman laut menjadi semakin rendah. Menurunnya kedalaman laut menyebabkan gelombang ombak menjadi semakin lambat. Karena gelombang melambat, beberapa gelombang berkumpul membentuk ombak yang lebih besar.

Di pesisir kecepatan smong turun menjadi 30 km/jam, sementara tingginya naik menjadi 30 meter. Walau melambat tetap saja, pelari tercepat pun tidak akan bisa mengalahkannya. Maka, cara terbaik mengatasi smong adalah menghindarinya. Mereka harus sudah sampai puncak sebelum smong mendekat ke pantai.

Napasnya semakin terengah-engah, langkahnya makin lambat. Untung puncak bukit sudah dekat. Tampak istrinya bersama warga sekitar.

Laé! Aisyah!” teriak istrinya sambil menangis.

Begitu sampai di puncak, kaki Umar terasa lemas. Napasnya hampir habis.

“Heh heh…, ini, Lafé… Heh heh, tidak apa-apa… Cuma pingsan, heh…” kata Umar pada istrinya.

Di pantai, tampak smong yang sangat tinggi, 2 kalinya pohon kelapa. Smong menyapu bersih daerah pesisir. Habis sudah rumah Umar saat itu, namun ada yang membuat hatinya merasa lega. Istri dan anaknya masih ada di sampingnya.

Ia berhasil memenuhi tanggung jawab dari neneknya. Dalam benaknya, terbayang wajah neneknya, “Kalau smong datang, kamu harus lindungi keluarga.”

“Iya, Nek. Alhamdulillah. Terima kasih,” ujar Umar dalam hati.


Pada 26 Januari 2004 pukul 08:53 WIB, terjadi gempa sebesar 9,1-9,3 skala Richter di Samudera Hindia yang disusul oleh tsunami. Departemen Sosial mencatat korban jiwa di Aceh dan Sumatera Utara mencapai 105.262 orang. Total kematian akibat bencana ini di seluruh dunia mencapai 500-an ribu jiwa dan menenggelamkan sejumlah pemukiman pesisir.

Gempa dan tsunami ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Namun, hanya 6 penduduk Pulau Simeulue yang meninggal saat itu bukan karena tsunami namun karena tertimpa reruntuhan saat gempa. Penduduk Pulau Simeulue berhasil menyelamatkan diri dari tsunami karena teringat lagu Smong, warisan leluhur mereka yang diajarkan secara turun-temurun.


Hari ini kita akan membaca sebuah cerita berjudul "".

Bacalah cerita secara utuh dari satu halaman ke halaman lain! Kamu bisa klik tab nomor halaman pada bagian atas cerita. Kamu juga bisa klik tombol “Selanjutnya” atau “Sebelumnya” pada bagian bawah cerita untuk berpindah dari satu halaman ke halaman yang lain.

Setelah selesai membaca cerita secara utuh, kerjakan soal berikut!
1 dari

Pilih "Benar" atau "Salah" pada pertanyaan berikut yang terkait dengan tabaha!

ATerbuat dari sagu, pisang, dan kelapa.
B Dibuat dengan cara dipanggang.
C Makanan khas Aceh.
D Disajikan di atas daun pisang.
2 dari

Apa yang menyebabkan neneknya Umar menangis?

3 dari

Bahasa apa yang digunakan dalam syair Smong?

4 dari

Apa motivasi nenek mengajari Umar lagu Smong?

5 dari

Apa pekerjaan Umar?

6 dari

Tuliskan nama-nama anggota keluarga inti Umar!

7 dari

Perhatikan kejadian dalam cerita berikut dan urutkan sesuai peristiwa yang terjadi pada cerita!

A Air laut surut, ikan-ikan menggelepar di pantai.
B Terjadi gempa di dasar laut.
C Ombak besar mendekati pesisir.
D Binatang tampak panik.

Tuliskan jawabanmu ke dalam kolom berikut!

8 dari

Mengapa leluhur Pulau Simeulue menciptakan lagu Smong?

9 dari

Apa yang menyebabkan terjadinya gempa di Samudera Hindia pada tanggal 26 Desember 2004?

10 dari

Mengapa gempa tersebut bisa menyebabkan tsunami?

11 dari

Menurutmu, mengapa Umar mencari jalur yang paling lapang saat mencari Aisyah?

12 dari

Bagaimana surutnya air laut dapat menjadi penanda terjadinya tsunami?

13 dari

Bagaimana pendapatmu dengan keputusan Umar untuk meminta istrinya menyelamatkan diri dan tidak ikut mencari Aisyah?

Jelaskan alasanmu!

14 dari

Mengapa Umar bisa menyimpulkan bahwa Aisyah hanya pingsan?

15 dari

Apa saja tanda-tanda akan terjadinya tsunami berdasarkan cerita tersebut?

16 dari

Mengapa Umar berusaha sekuat tenaga untuk bisa sampai di puncak bukit meskipun saat itu smong belum terlihat di pantai?
Kamu dapat memilih lebih dari satu pilihan jawaban.

17 dari

Mengapa gelombang tsunami tidak terasa di permukaan laut dalam?

18 dari

Cerita tersebut menggambarkan Umar sebagai seorang yang bertanggung jawab.
Tuliskan kalimat dari cerita yang menggambarkan sifat Umar tersebut!

19 dari

Menurutmu, apa yang akan terjadi pada penduduk Simeulue jika mereka tidak diajari dan tidak memahami lagu Smong?

20 dari

Bagaimanakah sifat Umar yang teramati pada cerita tersebut?
Tuliskan kalimat dari cerita yang menggambarkan sifat Umar tersebut!

Sekarang kamu bisa memeriksa ulang jawaban-jawabanmu.
Kalau kamu sudah yakin dengan jawabanmu, kamu bisa klik tombol “SELESAI”!

SELESAI

Tampilkan Pertanyaan

Ada soal yang belum selesai dikerjakan.
Apakah kamu yakin ingin melanjutkan?

  Tetap Lanjutkan